Kamis, 30 Januari 2014

Menagih Janjimuu

30 Januari 2014. Ya ! besok Gerakan Frekuensi Publik akan tagih janji- janji para komesioner KPI tercinta. 
Sebelumnya GFP mengadakan aksi longmarch dari Bundaran Hotel Indonesia hinga ke KPI (Harmoni) dengan membawa kado besar bukti cinta kepada KPI. Kado tersebut berisikan petisi untuk KPI agar memberikan sanksi kepada media- media di Indonesia yang digunakan pemiliknya untuk kepentingan pribadi dan kelompok dalam bentuk kampanye parpol. Dalam longmarch GFP sempat mampir di dua titik yakni Badan Pengawas Pemilu dan Menkominfo terkait hubungannya dengan pemilu dan undang- undang penyiaran. 

Di akhir aksi, komisioner menandatangani surat pernyataan yang inti utamanya adalah menindaklanjuti pelanggaran yang dilakukan media penghamba parpol. Dalam surat tersebut tertera bahwa deadline tertanggal 31 Januari 2014. 

Kita lihat saja nanti. APAKAH KPI BENAR LEMBAGA INDEPENDEN YANG BERANI?  

Jumat, 10 Januari 2014

Kado Untuk KPI

Beberapa pemilik media menggunakan medianya untuk kampanye secara gencar tanpa ampun. Kampanye dapat berupa memasukan dalam isi berita, iklan atau kuis.
Lebih jelas dapat dilihat di :
http://www.change.org/id/petisi/kpi-bekerjalah-hukumlah-stasiun-tv-pengabdi-partai-politik

@frekuensipublik sebuah wadah besar peduli frekuensi yang terbentuk dari beberapa organisasi/ kelompok serta individu yang berencana untuk membuat aksi pemberian petisi kepada KPI agar lebih tegas dalam memberi sanksi kepada media yang menghamba pada partai politik.




Kamis, 28 November 2013

Ilegal atau Legal, Kesehatan Perlu Diutamakan

   

     Lain ikan lain belalang, hal tersebut dapat dibuktikan juga dalam dunia prostitusi dan pelacuran di berbagai negara. Dalam konteks ini bukan berarti membenarkan dunia prostitusi atau pelacuran. Prostitusi merupakan hal yang berlawanan dengan nilai moral akan tetapi faktanya pelacuran terjadi di mana pun. Langkah memberantas sulit tapi mungkin dapat diminimalisir jumlahnya.
     Perbedaan peraturan dan hukum di setiap negara berbeda contohnya saja di Belanda, disana memeberikan gambaran tentang pendekatan tangan besi dan model melegalkan dan mengatur pelacuran (yang memang ditoleransi sebelumnya) dengan keyakinan bahwa langkah ini akan membawa kemudahan dalam memberikan layanan kesehatan dan mengawasi para pekerja di kalangan pelacur, dan untuk mencegah anak- anak dibawah umur dan korban trafficing diperjualbelikan. Namun bukan semata- mata negara ini bebas mendirikan bisnis prostitusi. Kewajiban meminta izin serta mendaftar usaha harus dilakukan jika tidak, maka bisnis tersebut dianggap tidak legal atau bisnis gelap. Pekerja seks legal yakni terdaftar berhak memperoleh layanan dan jaminan sosial dari negara. Mereka berhak atas asuransi kesehatan, asuransi jiwa, berhak menerima layanan pemeriksaan secara teratur, perlindungan hukum sebagai pekerja, bahkan menerima dana pensiun.
     Berbeda di India, tempat- tempat pelacuran secara teknis ilegal tetapi tempat pelacuran tersebar dimana- mana sama halnya dengan di Kamboja. Di negara negara miskin, hukum sering tidak relevan. Kita harus mengubah kenyataan, bukan hanya mengubah hukum. 

Sumber foto : rumahsejutaide.wordpress.com

Minggu, 24 November 2013

Mata Massa, Aplikasi Masyarakat Urban Memantau Pemilu 2014

Dari kiri : Ferry (Perludem), Ferry Kurniansyah (KPU), Nelson Simanjuntak (Bawaslu),
Ahmad Suwandi (Badan Pengawas iLab) 

     Pemilu 2014 merupakan pesta demokrasi akbar untuk menentukan pemimpin  lima tahun kedepan oleh karenanya  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan ICT Laboratory for Social Changes (iLab) dan didukung oleh Southeast Asia Tecnology and Transparency Initiative (SEATTI) meluncurkan  aplikasi pemantauan pemilu yakni Mata Massa pada Minggu lalu (24/11) di Perpustakaan Salihara Jakarta.
    Aplikasi Mata Massa merupakan sarana untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi terkait pemilu mendatang. Baik dalam hal iklan kampanye, alat peraga kampanye serta skandal kampanye yang terselubung.
     Aplikasi dengan pendekatan smartphone ini digunakan oleh masyarakat dan kaum muda atau pemilih pemula agar terlibat aktif dalam pemantauan. “Membuat aplikasi dan program untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, masyarakat perlu diajak selain partisipasi pada hari H” ungkap Umar Idris selaku Ketua AJI.
    Negara yang pernah menerapkan aplikasi serupa yakni Kenya, Thailand dan Malaysia.  Dengan aplikasi tersebut setiap warga dapat terlibat langsung agar pemilu berjalan jujur, adil dan bebas.
Laporan dari warga yang sudah benar baik format maupun kontennya maka tim verifikator segera melakukan proses verifikasi laporan dan akan dipublikasikan ke situs MataMassa.org. Selanjutnya laporan tersebut akan ditindaklanjuti oleh regulator pemilu yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)
     Pemantau pemilu yang terdaftar akan menjadi keypersons dan akan rutin mengabarkan mengenai pelanggaran yang terjadi menjelang  pemilu. Oranye yang merupakan lembaga pers mahasiswa Universitas Tarumanagara (UNTAR) tergabung dalam keypersons tersebut.  Tidak hanya UNTAR, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah (UIN), Universitas Negri Jakarta (UNJ), Universitas Nasional (UNas) serta berbagai universitas di Jakarta lainnya ikut tergabung didalamnya. 
     Menurut komisioner Bawaslu Nelson Simanjuntak, pelanggaran yang terjadi berasal dari tingkat kejujuran calon baik legislatif atau eksekutif yang hanya sebatas normatif sehingga hal tersebut yang membuat pemilu menjadi banyak tantangan.


Dipublikasikan pertama kali di http://fikomuntar.blogspot.com/2013/11/masyarakat-urban-masyarakat-pemantau.html

Kamis, 21 November 2013

WANITA atau PEREMPUAN ?

Terdapat diktum pada kaum feminis mengenai penggunaan kata “perempuan” dibandingkan kata ‘wanita”. Seperti yang kita ketahui beberapa organisasi atau istilah yang di dalamnya terdapat kata “wanita” secara bertahap dan pasti, menggantinya dengan kata “perempuan”. Contohnya saja Menteri Peranan Wanita kini berubah menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan.
Mari kita bahas mengenai “wanita” terlebih dahulu.
  • Dalam KBBI (1988: 1007), wanita berarti 'perempuan dewasa'.
  • Menurut KD (1970: 1342), kata wanita merupakan bentuk eufemistis dari perempuan.
  • Berdasarkan "Old Javanese English Dictionary" (Zoetmulder, 1982), kata wanita berarti 'yang diinginkan'. Arti 'yang dinginkan' dari wanita ini sangat relevan dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah 'sesuatu yang diinginkan pria'.
  • Prof. Dr. Slametmuljana dalam "Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara" (1964: 59--62). Kata wanita, dalam bahasa aslinya (Sanskerta), tulisnya, bukan pemarkah (marked) jenis kelamin. Dari bahasa Sanskertavanita, kata ini diserap oleh bahasa Jawa Kuno (Kawi) menjadi wanita, ada perubahan labialisasi dari labiodental ke labial: [v]-->[w]; dari bahasa Kawi, kata ini diserap oleh bahasa Jawa (Modern); lalu, dari bahasa Jawa, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia.
  • Pandangan lain juga mengatakan bahwa kata wanita bukanlah produk kata asli (induk). Kata ini hanyalah merupakan hasil akhir dari proses panjang perubahan bunyi (yang dalam studi linguistik sering disebut gejala bahasa /metatesis2) dan proses perubahan bunyi (kontoid) dari kata betina.
 

  • Berdasarkan etimologi rakyat Jawa (folk etimology, jarwodoso atau keratabasa, kata wanita dipersepsi secara kultural sebagai 'wani ditoto'; terjemahan leksikalnya 'berani diatur'; terjemahan kontekstualnya 'bersedia diatur'; terjemahan gampangnya 'tunduklah pada suami' atau 'jangan melawan pria'.
                    
Selanjutnya kita bahas mengenai kata “perempuan”
·         Dalam KD (1970: 853), kata perempuan berarti 'wanita', 'lawan lelaki', dan 'istri' .
·         KBBI (1988: 670) memberikan batasan yang hampir sama dengan KD, hanya ada tambahan sedikit, tetapi justru penting, untuk katakeperempuanan. Menurut KBBI, keperempuanan juga berarti 'kehormatan sebagai perempuan'.
  • Secara etimologis,
Kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', atau pun 'kepala', 'hulu', atau 'yang paling besar'; maka, kita kenal kata empu jari 'ibu jari', empu gending 'orang yang mahir mencipta tembang'.
Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu 'sokong', 'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'; katamengampu artinya 'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak runtuh'; kata mengampukan berarti 'memerintah (negeri)'; ada lagi pengampu 'penahan, penyangga, penyelamat', sehingga ada kata pengampu susu 'kutang' alias 'BH'.
Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'.
·         Prof. Slametmuljana (1964: 61) pun mengakui bahwa kata yang sekarang sering direndahkan, ditempatkan di bawah wanita, ini berhubungan dengan makna 'kehormatan' atau 'orang terhormat'. Tetapi, yang dilihatnya di masyarakat lain lagi. Maka, ia pun tidak mampu menyembunyikan keheranannya berikut:
"... Yang agak aneh dalam tjara berpikir ini ialah apa sebab perempuan tempat kehormatan itu semata-mata diperuntukkan bagi wanita, sedangkan hormat dan bakti setinggi-tingginya menurut adat ketimuran djustru datang dari kaum wanita, terhadap suami."

Namun perbedaan makna tersebut bukan tanpa pro dan kontra, sebagian pihak lain mengatakan bahwa kedudukan kata wanita lebih tinggi dibandingkan perempuan. Wanita diartikan sebagai perempuan dewasa sedangkan perempuan diartikan anak dan belum dewasa. Perempuan menurut etimologi didalamnya terdapat kata “empu” yang diartikan sebagai kepemilikan atau tentang suatu kepemilikan atau sesuatu yang dimiliki. Kata Wanita secara etimologi jawa berasal dari wanito yakni wani ditoto atau berani ditata atau bersedia ditata dianggap baik- baik saja malah memiliki konotasi yang positif dimana kata tersebut bermakna luhur yakni taat aturan, hukum dan tidak menyeleweng.
Perbedaan kata juga dikaitkan dengan Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928-1941 menjadi Kongres Wanita Indonesia (Kowani) setelah kemerdekaan namun dalam wartafeminis.com (Indonesia Feminist Theory and Practices) mengatakan bahwa hal tersebut tanpa bermaksud menperdebatkan arti kata perempuan dan wanita. 

INDONESIA TANPA DISKRIMINASI

Kami....
Tak berdaya nenantang beringasnya mereka, sang penakluk negara
Tak sanggup hidup dalam himpitan mengatasnamakan kesesatan dan kesatuan
Tak mampu jikalau kami ditindas bagai ilalang yang ditebas

Alangkah lucu, negara yang mengatasnamakan pluralitas tapi menutup mata dan telinga
Mendikte negara, mendikte masyarakat
Bukan kalian yang menentukan masuk tidaknya kami dalam neraka
Kalian para suciawan berhak menaklukan dunia tapi tak berhak memaksa kami

Kami kaum bungkam
Kami Kaum marginal
Kami kaum yang disisihkan

Hanya harapan yang kami tanam, dan entah kapan akan kami tuai
Atau mungkin kami hanya bisa menanam dan tak berdaya lagi

Abad peradaban dunia sudah dimulai
Kaum bar- bar seharusnya hanya tinggal sejarah
Tak ada pemaksaan dan penindasan, berganti menjadi penghormatan dan penghargaan
#Indonesia Tanpa Diskriminasi

GENDERSIDA DAN DISKRIMINASI GENDER MASA LALU


Judul Buku : Perempuan Menjunjung Separuh Langit
                   Yang diterjemahkan dari "Half The Sky"
Penulis       : Nicholas D. Kristof dan Sheryl Wudunn
                   Wartawan Pemenang Penghargaan Pulitzer
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010




Statistik global (2010) menunjukkan angka penganiayaan terhadap anak perempuan yang terbunuh selama lima puluh tahun terakhir ini sangat mencengangkan, hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan, ketimbang jumlah laki- laki yang terbunuh di dalam peperangan selama abad ke dua puluh. 

Salah satu praktik hal tersebut dijumpai di Cina yakni 107 lelaki untuk tiap 100 perempuan dalam seluruh populasi (dan perbandingannya jauh lebih tak berimbang lagi diantara bayi yang baru lahir). Di India anak perempuan juga dibedakan dengan anak laki- laki. Jika anak laki- laki sakit maka akan segera dibawa untuk berobat beda dengan perlakuan terhadap anak perempuan, jika anak perempuan sakit maka akan dikatakan "lihat saja besok, apakah sakitnya akan lebih parah". dari hal seperti itu kita dapat megetahui diskriminasi yang terjadi pada gender perempuan.


Dalam buku tersebut diceritakan kisah mengenai perjalanan yang dapat dikatakan tragis dan sadis beberapa perempuan. Perempuan Thailand yang mempunyai hutang keluarga kemudian dijanjikan dapat melunasi hutang keluarganya jika ikut dengan seseorang dengan panggilan “bos” tapi bukannya terpenuhi janji tersebut ia malah dibawa ke Malaysia untuk menjadi pekerja seks. Korban trafficking tersebut tidak menginginkan dirinya sebagai pemuas hidung belang dan memberontak kepada “bos” akhirnya pun ia diberi pukulan- pukulan yang sangat menyakitkan terlebih lagi jika ia mencoba melarikan diri maka bukan hanya pukulan tetapi kematian dihadapannya. Kisah serupa juga dialami oleh perempuan India, di India lebih menyedihkan lagi. Perempuan desa yang masih berumur eman tahun sampai sepuluh tahun dijual ke rumah pelacuran. Dalam rumah pelacuran tersebut ia dirawat hingga ia berumur tiga belas sampai lima belas tahun dan cukup untuk menjadi wanita pemuas nafsu laki- laki. Sungguh tragis jika dibayangkan. Mereka akan mendapatkan pukulan jika menolak perintah ibu atau mucikari dalam rumah pelacuran tersebut terlebih ketika hendak melarikan diri entah apa yang akan dilakukannya. Berniat kabur pun ngeri bagi mereka. Setelah bertahun- tahun mereka didalam dan disekap sehingga bagi mereka tidak ada pekerjaan lain di luar sana yang dapat menerima mereka dan mereka merasa sudah hina. Nicholas pernah berusaha membebaskan dua diantara mereka dengan membayar penuh harga mereka kepada mucikari. Mereka sangat senang kembali bebas dan hidup bersama keluarga tetapi satu diantaranya ternyata dengan keinginan sendiri kembali lagi ke rumah pelacuran. Mengapa? Karena ia tidak tahan dengan siksaan yang dirasakan ketika ia tidak mendapatkan pil “terlarang” yang dapat membuat ia nyaman. Setelah ia sadar kembali maka ia pun sangat ingin pergi dari tempat prostitusi tersebut tapi siksaan diri itu kembali menderanya dan ia pun kembali. Bertahun tahun anak yang dipaksa menjadi pelacur malah menjadi mucikari dan merekrut anak- anak India desa.

Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa seringkali keterpaksaan diawal tetapi akhirnya kita sendiri yang menentukan. Apakah kita berani untuk melawan atau diam ditempat. 

"Trafficking dan pemerkosaan akan lebih berkurang jika lebih banyak perempuan berhenti menyerahkan pipi yang sebelah dan mulai balas menampar" (Hal 68)