Kamis, 12 September 2013

Jurnalis dan HAM

   

     Seorang jurnalis dituntut untuk selalu netral dalam peliputan sebuah peristiwa serta isu, namun dalam pemberitaan sebuah pelanggaran HAM, jurnalis harus berpihak pada yang benar serta korban. Hal tersebut di jabarkan oleh Dr. Ade Armando dalam Workshop Keberagaman yang diadakan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) September lalu. 
    Konflik dan penindasan HAM bukan sekadar berita biasa karna peristiwa konflik atau penindasan minoritas tidak bisa diperlakukan sama dengan peristiwa lainnya, pemberitaan mengenai hal tersebut menyangkut nasib bahkan nyawa seseorang dan juga pelanggaran HAM merupakan kejahatan kemanusiaan yang membutuhkan intervensi. 
     Karya seorang jurnalis bisa mengurangi bahkan menyelamatkan korban HAM, namun tentu saja keberpihakan tersebut mensyaratkan pengetahuan dan pemahaman mendalam dan perlu bersikap selektif dan kritis dalam memberitakan konflik dan penindasan HAM. 

15 Tips peliputan keberagaman dijabarkan Dr Ade Armando, tips tersebut yakni, 

1. Bergerak melebihi peran pewarta
2. Meninggalkan rumus- rumus dasar apa yang dianggap sebagai newsworthy : 
    bad news is good news, konflik dan sensasi.
3. Bukan sekeradar Cover Both Sides, melainkan menampilkan semua sisi yang dibutuhkan bagi pembaca untuk memahami kebenaran
4. Apa yang "disukai" pembaca masyarakat tidaklah sama dengan apa yang "dibutuhkan" masyarakat
5. Bersedia mempelajari konteks peristiwa
6. Bersedia mempelajari latar belakang yang panjang
7. Menulis dengan kaca mata empatik
8. Meninggalkan prasangka, stereotip, anekdot
9. Dalam konflik yang "asimetris" memberi perhatian lebih pada mereka yang tidak punya ruang bersuara
10. Bila ada potensi konflik, menjalankan peran pemberi peringatan awal
11. Tidak hanya mengandalkan sumber resmi
12. Memberi ruang bagi mereka yang menyuarakan perdamaian, keharmonisan, dan persaudaraan
13. Memberi ruang bagi "orang kecil" untuk bersuara
14. Menonjolkan titik temu, bukan titik perbedaan
15. Menjadikan media sebagai ruang komunikasi terus menerus untuk membangun dunia yang damai

*saya dapatkan ketika mengikuti Workshop Pers Kampus "Panduan Jurnalis Kampus Dalam Memberitakan Isu Keberagaman" oleh SEJUK di Universitas Indonesia, 14-16 Sept 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar