Rabu, 12 September 2012

Pergamon Altar, perang batin


1997, diawal tahun tidak ada yang begitu menarik kecuali melihat indahnya siluet petang dari salah satu gedung perbelanjaan tertinggi di Jakarta. Goresan tinta merah milik alam menjadi hal yang paling ku tunggu setiap hari. Aku hanya anak seorang petugas penjaga palang kereta yang tak pernah merasakan indahnya pulau Bali, megahnya gedung theater Sydney apalagi eksotisnya menara Eifel. Aku selalu membayangkan berada di salah satu tempat indah itu saat ku berdiri disini.
Tak ada yang spesial dari diriku, tubuh semampai aku tak Pergamon Altar, Perang Batinunya, wajah elok aku pun tak dapatkan. Namun aku dikelilingi  banyak orang yang sayang denganku. 17 tahun umurku esok hari dan aku merayakannya dengan diriku sendiri dan Tuhan Yang Maha Pencipta. Aku bersyukur atas itu karna aku percaya semakin aku sering besyukur Tuhan akan selalu menambahkan berkahnya.
Di kelasku aku tak terlalu dikenal guru – guru. Kemampuan sosialku tak pandai, matematika ku juga tidak melebihi rata-rata. Namun apabila ada seseorang mengajakku duel cerpen aku tak akan menunggu waktu lama untuk berkata “ya”. Dan seketika itu aku mulai mengacak kosa kataku untuk mendapatkan perpaduan kalimat yang indah dan koherensi. Bakat ini bukan turunan dari ayah atau ibuku. Awalnya aku hanya suka membaca novel sastra karangan Ahmad Tohari, Pramodya Ananta Toer dan juga Nh. Dhini. Aku merasakan ada sesuatu yang mendorongku untuk menuangkan ide-ideku pada sebuah buku kosong. Inspirasi begitu banyak mengalir saat ku menulis diatasnya. Inilah pengisi waktu luangku saat aku tak sibuk dengan sekolahku.
Umurku beranjak dewasa dan kini aku mulai merasakan awal indahnya masa kuliah. Dengan umurku yang masih belia ini aku bertekat untuk lebih mengasah kegemaranku menulis. Aku semakin rajin mengirim karyaku kesana kemari. Sedikit demi sedikit karyaku mulai dimuat di beberapa tabloid, majalah dan begitu juga dengan koran. Akhirnya aku mendapatkan penghasilanku sendiri.
Karna terlalu banyaknya karya yang aku kirim sampai suatu saat aku terkejut karna mendapat pemberitahuan mengenai beasiswa yang diperuntukan penulis ini untuk mengembangkan bakat menulisku ke Jerman. mungkin ini sulit dipercaya tapi ini nyata, dan sampai saat ini aku belum mempercayainya.” Bagaikan mimpi di siang bolong!” ya, itulah yang kurasakan. Aku baru teringat ketika aku pergi tidur aku menyempatkan menulis cerita narasi mengenai kondisi Jerman dan segera esok harinya kukirim pada Kedubes Jerman yang saat itu mengadakan perlombaan Menulis Indah Jerman.
                                                            ***

Beberapa hari di Jerman membuat ku merasa terasing, meskipun keluarga angkatku sangat baik dan memperdulikan aku. Teman- teman ku juga bersahabat meskipun juga aku hanya seorang auslender bagi mereka. Auslender disini berarti orang asing berkulit warna, seperti diriku. Aku bangga dengan ras yang aku miliki namun kadang aku merasa direndahkan bila aku tak bisa mengikuti apa yang biasa dilakukan ditempat ini. “ Ich bin auslander und spreche nicht gud deutch!” saya warga asing dan saya tidak pandai bahasa Jerman, aku sering mengucapkannya agar orang di sekelilingku dapat membantuku untuk lebih menata bahasaku yang masih tidak karuan letaknya. Saat disini aku merasakan nilai- nilaiku lebih baik dari sebelumnya. Konsentrasiku lebih meningkat mungkin karna aku lebih berusaha memahami dan mencoba untuk mengetahui maksud dari bahasa yang berbeda ini.
Setelah aku merasa nyaman di tempat asing ini, aku mulai menulis surat untuk ayah dan adikku. Bercerita tentang keindahan kota yang aku tempati saat ini berharap hati ayahku akan senang membacanya, dan menyemangati adikku untuk lebih semangat dalam meraih cita- citanya. Aku anak sulung, itu membuatku bertanggung jawab atas pendidikan adikku yang masih duduk dikelas 3 SD karna ayahku yang mulai terserang penyakit akibat faktor usia.
Kudam, Kurfurrstendamm. Aku selalu mengunjungi tempat ini saat aku mulai resah dan teringat ayahku yang tinggal hanya bersama adikku dijauh tempat sana. Di tempat ini aku bisa bertemu berbagai macam corak manusia, dari perbedaan kulit, perbadaan bangsa dan bahasa. Banyak penjual pinggir jalan menghiasi ramainya Kudamm ini di setiap waktu.
 Merasa semakin kesepian aku terus berjalan menyusuri jalan. Sesampai diujung jalan aku bertemu seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya. Ya! Dia tetanggaku di Indonesia. Waktu pun mulai larut dan tak terasa aku sudah lama berbincang bincang dengannya. Umurnya hanya berbeda 2 tahun diatasku sehingga tak terlalu canggung bicara dengannya. Saat itu aku mengetahui maksud dan tujuannya berada disini. Melanjutkan pendidikannya. Kami pun berencana mengunjungi Pegamon Altar esok hari setelah kuliahku selesai berdua saja dengannya. Keakraban terjadi begitu saja tanpa ada skenario dan aku sangat menikmatinya. Di Pegamon Altar kami begitu tertarik saat disuguhkan banyak benda – benda bersejarah di Jerman.
Semakin hari bertambah, semakin dekat juga hubungan kami berdua. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama dan bercerita dengan lepasnya. Aku merasa ada sesuatu antara aku dan dia lebih dari sekedar teman. Dan hal ini benar terjadi. Dia menyukaiku lebih dari seorang teman bercerita.
Sepulang dari Pergamon Altar ia mengajakku ke suatu tempat yang belum pernah ku datangi sebelumnya. Tempatnya indah persis di tengah kota. Kilatan lampu jalan saling beradu hentakan kaki pedestrian. Menambah elok suasana tenang namun ramai. Aku terus berjalan dengannya sampai tempat yang belum ditentukan. Hingga pada sebuah gedung dia mengajakku masuk. Sangat sepi sekali. Aku menduga ini tempat tinggalnya karna di setip pojok berhiaskan fotonya bersama teman dan keluarganya. Aku merasa sudah sangat dekat dengannya sampai aku masuk begitu saja ke dalam kamarnya dan melakukan hal yang tidak bernorna bersamanya di negara asing yang baru beberapa bulan aku kenal. Hal ini terjadi begitu saja.
Beberapa bulan berlalu. Aku bertahap melupakan kejadian malam itu namun takdir berkata lain aku terus teringat disetiap waktu luangku. Dan aku merasakan ada hal berbeda di tubuhku. Aku merasa ada sesuatu yang baru dalam perutku. Mual, ya mual, aku merasakannya lebih hebat dari sebelumnya. Aku rasa ada seseorang dalam perutku ini. Akhirnya aku bergegas membeli alat pendeteksi kehamilan dan hasilnya positif hamil. “Tuhan, aku tak tau apa yang harus aku lakukan” pertanyaan itu selalu berputar di kepalaku. Cuaca di luar apartemen mendadak berubah menjadi mendung dan berkabut. Siang ini tampak risau, angin pun seperti ikut bertanya padaku.
Aku ceritakan kejadian ini pada fran, teman kencankuitu. Tanpa basi basi iya menyuruhku untuk menghilangkan janin di rahimku ini.Dan aku sangat tidak ingin membunuh penghuni perutku ini. Batinkupun mulai bergejolak, disatu sisi aku tidak inginmenghancurkan masa depanku dengan mengurus anak secepat ini namun aku tak biasmembunuhnya. Dengan hati berat akhirnya aku mengabulkan apa yang dikatakanteman kencanku itu. Malam itu juga aku membunuh janin dalam rahimku sendiri. Dikamar mandi apartemenku sendiri. Aku lemas. Aku pucat. Aku tak berdaya.Tergelatak begitu saja dalam hitungan jam. Aku sendiri. Aku sunyi.Pergamon Altar, Perang Batin
Pagi hari aku terbangun. Aku sadar aku belum ditakdirkan untuk mati bersama janinku malam itu. Saat itu aku mulai menyesal dan lebih menghargai hidup. Aku mulai bangkit namun tidak ada seorangpun mendukung disampingku saat ini, benakku rapuh tapi aku dengan segera menyemangati diriku sendiri.
Kini aku focus dengan kegiatan kesukaanku beberapa bulan lalu. Aku mulai rajin menulis novel – novel beraliran realistis, naturalisme dan juga  neonaturalisme. Aku lebih menggemari kegiatanku ini sampai aku menjadi orang yang tegar. Sebagian karya- karyaku menjadi best seller di seluruh dunia. Hasil royaltinya pun aku kirim pada ayah dan adikku tercinta.
Timbul rasa rinduku dengan ayahku dan adikku membuat aku mengambil keputusan untuk kembali ke tanah airku tercinta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar